MobNews
Senin, 06 April 2015
Ini Efek Buruknya Jika Masih Nekat Begadang
Jakarta, Mulai dari karena pekerjaan atau gaya hidup, jam tidur malam seringkali 'dikorbankan'. Dalam jangka waktu panjang, kebiasaan begadang dapat memberikan efek yang buruk bagi kesehatan.
Seperti dituliskan dalam The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, risiko kesehatan bagi mereka yang kerap begadang bahkan tetap sama meskipun mereka bangun lebih siang keesokan harinya.
"Banyak orang yang tidak mendapatkan cukup jam tidur karena mereka terlambat pergi tidur tapi tetap harus bangun pagi-pagi. Hal ini bisa mengganggu irama sirkadian dalam regulasi metabolisme," ungkap penulis senior studi tersebut, Dr Nan Hee Kim, yang juga sekaligus merupakan seorang ahli endokrinologi di Korea University Ansan Hospital.
Seperti dikutip dari Fox News, penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 1.620 responden berusia 47-59 tahun yang mengambil bagian dalam studi besar di Korea. Para peserta menjawab pertanyaan tentang siklus tidur-bangun, kualitas tidur dan kebiasaan gaya hidup mereka, seperti seberapa sering mereka berolahraga. Mereka juga memberikan sampel darah dan pemeriksaan tubuh guna dinilai massa lemak dan otot tubuh mereka.
Para peneliti kemudian mengelompokkan peserta berdasarkan jawaban mereka; ada 480 orang yang biasa beraktivitas di pagi hari, 95 orang beraktivitas di malam hari dan 1.045 orang lainnya lain-lain.
Disimpulkan bahwa mereka yang terbiasa beraktivitas di malam hari lebih mungkin untuk memiliki kualitas tidur yang buruk dan perilaku tidak sehat seperti merokok, jarang berolahraga dan makan tak sehat di larut malam. Mereka juga cenderung memiliki tingkat lemak tubuh dan trigliserida lebih tinggi.
Orang-orang yang kerap begadang juga ditemukan 1,7 kali lebih berisiko mengidap diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik, yang mengarah pada tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, serta memiliki terlalu banyak lemak perut.
Seperti dikutip dari Livescience, Senin (6/4/2015), mereka yang kerap begadang juga 3,2 kali lebih mungkin untuk mengalami sarcopenia (hilangnya otot) dibandingkan dengan orang-orang yang banyak beraktivitas di pagi hari.
Source : Ajeng Anastasia Kinanti - detik.com
Studi: Orang Gemuk Lebih Sensitif 'Mencium-cium' Aroma Makanan
Jakarta, Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti di Inggris menemukan bahwa mereka yang obesitas atau memiliki berat badan berlebih memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mendeteksi aroma makanan, jika dibandingkan dengan mereka yang berat badannya kurang atau normal.
Dalam studi yang dituliskan dalam jurnal Chemical Senses ini, penelitian terbaru ini juga menunjukkan bahwa indra penciuman sangat berkaitan dengan pusat lapar di otak.
"Seiring meningkatnya angka kejadian obesitas di seluruh dunia, perlu dipahami lebih lanjut tentang peran indra penciuman dalam perilaku makan," kata pemimpin penulis studi ini, Lorenzo Stafford, dari Center for Comparative and Evolutionary Psychology di University of Portsmouth, Inggris.
Studi ini menurutnya juga melengkapi studi sebelumnya yang mencari tahu hubungan antara indra perasa dengan status obesitas. Nah, untuk studi kali ini tim peneliti memilih 40 mahasiswa untuk penelitian dan dikategorikan sebagai kelompok obesitas atau non-obesitas. Semua peserta tidak merokok dan tidak sedang dalam program penurunan berat badan.
Uji pertama, para peneliti meminta responden untuk mencium aroma dark chocolate dan menilai seberapa intens aroma tersebut. Mereka juga diminta untuk menggunakan indra perasa untuk mendeteksi empat varian rasa yakni asam, asin, pahit, dan manis. Tim kemudian menilai prediksi peserta dengan rasa sebenarnya dari makanan dan rasa-rasa tersebut. Data yang ada dianalisis untuk menentukan hubungan antara indra penciuman, indra perasa dan berat badan.
Hasilnya, tim menemukan bahwa orang yang kegemukan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mendeteksi aroma cokelat daripada kelompok non-obesitas. Kemampuan mereka untuk memprediksi rasa sesuai variannya juga lebih baik.
Seperti dikutip dari News Max Health, Senin (6/4/2015), meskipun demikian masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut lagi untuk menemukan apakah kemampuan ini yang kemudian berisiko membuat mereka mengalami kenaikan berat badan, ataukah justru sebaliknya.
Source : Ajeng Annastasia Kinanti - detik.com
Langganan:
Postingan (Atom)

